Selasa, 29 Mei 2012

Filsafat Yin dan Yang

A.    Filsafat Yin Yang

Dalam perubahan terdapat Awal Utama Agung (Tai Chi). Awal ini menghasilkan dua daya utama. Kedua daya utama menghasilkan empat citra. Empat citra menghasilkan delapan trigram.” (I Ching, Bab 11 dalam Liu 1986, 24)

Fondasi pemikiran masyarakat China adalah kepercayaan pada alam semesta kosmis yang tunggal, suatu Ketunggalan yang tanpa awal atau akhir. Filsafat yang lebih tua daripada aliran filsafat China manapun adalah berbagai kepercayaan mendasar yang membantu orang China memahami diri mereka sendiri dalam hubungannya dengan dunia: pada awalnya, dunia adalah suatu kehampaan tanpa batas yang disebut Wu Chi. Kehampaan ini digambarkan sebagai suatu lingkaran kosong yang dibentuk oleh garis putus-putus. Dari kehampaan ini, muncullah kegiatan yang diekspresikan sebagai Yang, yang digambarkan dalam bentuk lingkaran kosong, dan ketidakgiatan dalam bentuk lingkaran hitam. Interaksi yang terjadi di antara kegiatan dan ketidakgiatan ini disebut tai chi, yang diperlihatkan sebagai lingkaran Yin-Yang, setengah hitam dan setengah putih.
Dari alam semesta kosmis yang luas dan misterius, Yang Esa, semuanya berkembang. Ketika terwujud di dunia, Ketunggalan ini terbagi dua: Yin dan Yang. Dua hal yang bertentangan yang dinamis ini digambarkan dengan garis putus (untuk Yin) dan garis lurus (untuk Yang). I Ching mengombinasikan garis-garis ini dalam pola yang digunakan untuk meramal. Terdapat empat cara yang dapat digunakan untuk mengatur garis-garis ini secara berpasangan: dua garis lurus, dua garis putus, satu garis lurus diatas garis putus, dan satu garis putus diatas satu garis lurus.
Tigram kombinasi tiga garis dalam satu kolom, dianggap berkaitan dengan kualitas-kualitas alam tertentu dan cara kerjanya di alam semesta. Garis-garis itu pertama kali disusun dalam trigram oleh Kaisar Fu His (2852-2738 SM). Ia melihat adanya pola pada cangkang kura-kura yang pada waktu itu umum digunakan sebagai ramalan. Dua trigram ekstrem adalah Ch’ien (tiga garis lurus) yang merupakan trigram Kreatif dan K’un (tiga garis putus) yang merupakan trigram Menerima. Kedua trigram ini dianggap mewakili dinamika langit dan bumi. Ch’ien adalah unsure kreatif, penguasa, ayah, cahaya. Sedangkan K’un adalah prinsip menerima, ibu, diatur dari atas, kegelapan. Semua trigram sisanya merupakan kombinasi dari kedua hal yang bertolak belakang itu.
Kedelapan trigram itu dikombinasikan menjadi 64 heksagram. Dengan menafsirkan semua pola yang berlainan, orang China mengembangkan suatu cara meramal peristiwa di masa depan jika segala sesuatunya sesuai dengan alam. Ilmu meramal I Ching memprediksi masa depan dengan keakuratan yang gaib.
Teori ini menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan alam masyarakat China. Kalender lunar (berdasarkan perputaran bulan) yang telah dikembangkan sekitar tahun 1200 SM berakar pada teori ini. Demikian pula halnya dengan tradisi penyembuhan China yang menggunakan jejamuan dan akupunktur.[1]
Keselarasan Tao ada terlebih dahulu, diaktifkan oleh kepasifan, oleh tidak adanya aktivitas. Tetapi begitu diekspresikan, Tao menghasilkan suatu permainan pertentangan yang dinamis dan silih berganti: Yin-Yang, yaitu manifestasi Tao di dunia. Keduanya saling menghasilkan satu sama lain sebagai kutub-kutub yang menjadi bagian dari jalinan keberadaan.
Yin merujuk kepada ciri-ciri kelembutan, kepasifan, kewanitaan, kegelapan, lembah, dan yang negative, ketidakberadaan. Di lain pihak, Yang mengacu pada ciri-ciri seperti sifat kekerasan, kejantanan, kecerahan, gunung, kegiatan, keberadaan.
Semua energi aktif terwujud sebagai dualistas Yin-Yang. Ketidakberadaan  menyertai keberadaan. Wujud Tao itu sendiri merupakan perubahan yang ditentukan oleh aliran alami kutub energi. Energi itu tidak statis, bukan suatu objek pasti.
Yin-Yang menghasilkan suatu keseimbangan dinamis antara daya gerak dan sikap diam, antara keaktifan dan kepasifan, sehingga titik keseimbangan kembali ke pusatnya. Kesatuan dari hal-hal yang bertentangan pun berkembang. Dalam banyak penerapan Taoisme, kesatuan ini menjadi sumber tuntunan, menjadi tolok ukur, menjadi standar untuk mengevaluasi kebenaran ketika akal budi dikerahkan dalam segala hal.[2]
Berdasarkan kosmologi orang China, alam semesta ini digolongkan menjadi dua, atau dengan kata lain alam ini diisi dengan pembagian atau golongan elemen-elemen yaitu baik dan buruk. baik mencerminkan sifat Yang dan buruk mencerminkan sifat Yin seperti diungkap dalam kitab klasik Taoisme (Tao te Ching) sebagaimana dikutip oleh McCreery (dalam Scupin, 2000:289), bahwa “Tao melahirkan satu dan satu melairkan dua”. Yang dimaksud dengan kata “dua” di atas adalah Yang dan Yin, yang mengatur dunia, baik dunia nyata maupun tidak nyata. Yang dan Yin adalah dua aspek yang saling berlawanan dan keduanya sama-sama mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Yang bersifat terang, aktif, laki-laki, panas, kering, dan positif, sedangkan Yin bersifat gelap, pasif, perempuan, teduh, basah dan negative. dengan adanya interaksi antara keduanya ini maka lahirlah alam dan seisinya. Mereka saling melengkapi, namun hubungan mereka adalah berjenjang. Yang selalu dianggap lebih besar daripada Yin, yaitu seperti model dimana laki-laki selalu besar mendominasi dalam masyarakat patrilinial. Apa yang terjadi dalam masyarakat patrilinial adalah mengambil model dari apa yang terjadi dalam hubungan Yin dan Yang.
Yin dan Yang mewakili dua kekuatan mendasar yang membuat dan menyelaraskan Semesta. Yin adalah sisi hitam dengan titik putih pada bagian atasnya dan Yang adalah sisi putih dengan titik hitam pada bagian atasnya. Hubungan antara Yin dan Yang sering digambarkan dengan bentuk sinar matahari yang berada di atas gunung dan di lembah. Yin (secara harafiah yaitu tempat yang teduh) adalah daerah gelap yang merupakan bayangan dari gunung, sementara Yang (secara harfiah yaitu tempat yang terang atau cerah) adalah bagian yang tidak terhalang oleh gunung. Yin dan yang inilah yang membuat alam menjadi harmonis dan baik. Yin mengandung sifat-sifat : diam, beku, padat, gelap, betina, dingin, lembut dan sebagainya. Sedang Yang mengandung sifat-sifat : gerak, cair, terang, jantan, panas dan sebagainya. Sifat Yin berlawanan dengan sifat Yang. Namun, perpaduannya merupakan suatu keharusan untuk alam ini agar berfungsi dengan harmonis. Perpaduan Yin dan Yang merupakan syarat berlangsungnya dunia dan isinya. [3]
Menurut Kosmologi orang Cina, semua manusia mempunyai hubungan erat  secara pribadi dengan kosmos sehingga terlihat bervariasinya hubungan-hubungan itu dalam kehiduan sehari-hari.menurut kosmologi cina  bahwa manusia dan alam (alam yang lebih luas) dihubungkan  oleh Tao. Orang Cina berpendapat bahwa  segala sesuatu yang ada di alam ini ada kesesuaian dengan  tao.Tao diterjemahkan sebagai jalan  atau cara. Ajaran Tao telah membuat  agar alam dapat selaras dengan jalan hidup manusia.konsep Tao berkembang  dari pemikiran Cina  tentang  kosmos atau alam.orang Cina mengamati  bagaimana  alam menjalani siklus yang teratur,serta bagaimana  hasil pertanian dan nasib mereka bergantung pada alam.manusia dan alam mengikuti hukum  yang sama yaitu Tao.
Sebagai sebuah Prinsip  Tao berasal dari keseimbangan,satu berlawanan sebagai sebuah proses tao juga  menjadi perubahan yang teratur dan bersiklus,seperti musim  panas menjadi   musim dingin. Dengan memahami  prinsip Tao,  Ahli Feng Shui dapat mengupayakan keseimbangan agar keharmonisan  antara manusia dengan alam (alam yang lebih besar). Dapat mewujudkan alam yang tidak teratur  menjadi teratur dan dia(ahli Feng shui) dapat menjadi perantara antara manusia dengan roh-roh, dewa-dewa,   dan roh-roh leluhur tersebut  dengan keturunannya.
Peraturan-peraturan manusia harus sesuai dengan tao dan orang pertama yang terkait  dengan norma-norma terkait adalah kaisar,yang diyakini mewakili langit dan bumi. Kebijakan pemerintah akan mendapat pujian dari rakyat jika kebijakan sesuai dengan tao. Kalau negara diperintah dengan baik orang akan berkata, bahwa langit (thian)  telah memerintah Negara itu. Untuk menjaga keselamatan Negara,kaisar  mempersembahkan  korban pada dewa langit  yang dilakukan melalui pemujaan  di tempat-tempat yang telah ditentukan, seperti Thian dan tempat-tempat suci yang lainya yang digunakan oleh kaisar  untuk memuja dewa langit adalah kuil-kuil dan untuk memuja leluhur biasanya  di tempat suci atau disucikan atau kuil-kuil yang ada dirumah.
Menurut kosmologi orang Cina Bahwa seorang kaisar memimpin  Dunia bukanlah dilihat dari prestasi  yang di peroleh, tetapi  didasarkan pada Anugrah yang di limpahkan oleh dewa langit kepadanya. Begitu juga seorang yang menjadi pemimpin atau kepala pemerintahan di dunia, bukan saja didasarkan atas usaha keras dan prestasinya, tapi juga atas pemberian dari leluhur mereka yang sudah mati. Untuk mewujudkan rasa terima kasih itu harus melakukan pemujaan dengan menyuguhkan korban agar dewa langit dan leluhur tidak marah kepadanya. dari sini telah melahirkan konsep pemujaan leluhur pada orang Cina, karena mereka beranggapan bahwa leluhur atau roh nenek moyang mereka senantiasa hidup di langit dan mengatur atau memberi petunjuk bagi kehidupan keturunan mereka di dunia dan mereka dianggap wakil dari langit atau Thian atau Tuhan. Jika langit atau Thian diyakini menguasai alam dan seisinya dalam lingkup yang luas (tanpa batas), maka leluhur diyakini menguasai keturunannya dan memberikan bimbingan dalam lingkup yang lebih kecil yaitu sebatas pada mereka yang memiliki hubungan kekerabatan pada leluhur. [4]
Asal-Usul Alam menurut Kosmologi China
Keterangan  tentang terbentuknya alam semesta menurut pemikiran Cina terdapat dalam kitab Yi Jing, kitab ini menjadi rujukan utama untuk memahami konsep kosmologi (ilmu tentang alam semesta). Teori asal-usul dunia yang terdapat dalam kitab Yi Jing disepadankan dengan teeori kosmologi/fisika yang menyatakan bahwa terciptanya alam semesta dimulai dengan sebuah  ledakan besar yang melahirkan materi-materi dengan tingkat kepadatan tinggi, yang terus berputar menghasilkan galaksi, tata surya dan planet.
Menurut salah satu penafsiran, kitab Yi Jing, pada awalnya adalah kehampaan, tidak ada dunia. Untuk sekali waktu yang ada hanyalah kehampaan. Setelah kehampaan disusul oleh kekacauan. Kehampaan berganti kekacauan dengan tingkat energi yang tinggi. Setelah terjadi kekacauan muncullah  gas, disusun energy serta materi-materi. Alam semesta disini masih dalam bentuk yang tak jelas dengan gerakan yang tak teratur. Sampai saat, muncullah keteraturan atau hukum alam atau azas alam. Hukum ini mengatur materi-materi yang tersebar di alam, hingga saat alam semesta menampilkan bentuknya mendekati seperti  yang ada sekarang.
Fungsi dari alam semesta mencapai kesempurnaan setelah munculnya Tai Ji. Tai Ji merupakan perpaduan unsure  Yin dan Yang. Perpaduan Yin dan Yang inilah yang membuat alam menjadi berjalan seimbang dan harmonis.[5]

Konsep Dao

Konsep Yin dan Yang juga berpengaruh dalam memberi arti pada Dao. Dalam pengertian ini, Dao diartikan sebagai 1 (satu) Yin dan 1 (satu) Yang. Dao berarti adalah keseimbangan sempurna, karena telah mengandung Yin-Yang. Dengan kesempurnaannya, Dao merupakan standar bagi seluruh alam ini.
Dao menghasilkan ketunggalan (Yin dan Yang). Dari ketunggalan dihasilkan dwitunggal, yaitu langit dan bumi, dari dwitunggal ini dihasilkan tritunggal yaitu manusia, untuk kemudian menghasilkan segala benda. Oleh karena itu, dapat dikatakan : standar manusia adalah bumi, standar bumi adalah langit, standar langit adalah Dao, dan standar Dao adalah kealamian (ziran).
Proses penghasilan isi alam dari Dao sampai benda-benda ini tidak dijelaskan dalam Kitab Yi Jing, karena isi kitab ini lebih merupakan ajaran yang harus dipercayai, bukan untuk diperdebatkan. Kitab ini juga sering disebut sebagai Kitab Penujuman atau Peramalan tentang kejadian dan kerja alam semesta.[6]



B.     Yin dan Yang dalam Hubungan
Yin dan Yang bergabung Ketika keduanya diterima sebagai kebenaran Larut menjadi suatu sintesis Menjadi ketunggalan yang tidak terbatas yaitu: Anda!
(C. Alexander Simpkins)

Dengan intuisi, kita dapat menangkap kekuatan unsure-unsur ini ketika kita mengolah kepekaan yang tepat. Mengikuti aliran Yin dan Yang, kita akan dengan  aman  mengarungi samudra kehidupan. Percayalah terhadap kekuatan ini dan berdamailah dengan arus vitalitas dalam kehidupan yang tidak terelakkan. Keseimbangan akan muncul sendiri secara alami. Hubungan Yin dan Yang memberi kita pemahaman yang cerdas atas realitas.

Hubungan Timbal Balik
Dalam teori psikologi yang secara luas diterima tentang cara berkembangnya anak-anak menjadi dewasa, Jean Piaget menyatakan bahwa fungsi intelektual yang matang mensyaratkan kita untuk melangkah keluar dari persepsi kita sendiri dan secara imajinatif memasuki persepsi orang lain. Tanpa melakukan hal ini, perkembangan intelektual akan terhambat dan terbatas. Bagi orang yang waras dan matang, keberadaan kita bukanlah pusat dari alam semesta.
            Hubungan timbal balik adalah suatu pengertian fundamental tentang realitas. Kita mencakupkan hubungan ini dalam pengertian tentang orang lain, benda, dan peristiwa.

“Seiring tumbuhnya anak menjadi lebih besar, mereka tidak lagi menganggap ekspresi seperti “di depan” atau “di balik” dalam pengertian mutlak yang mengindikasikan ciri objek. Sebaliknya, mereka mulai menangkap ciri relasional dari objek-objek di dunia. Istilah seperti “asing” tidak dianggap menandakan suatu ciri mutlak dari orang yang bersangkutan, melainkan lebih merupakan suatu relasi timbal balik. Jadi, jika A asing bagi B, maka B asing bagi A. Dalam suatu hubungan timbal balik, si individu dapat melihat dari sudut pandang orang lain, dan bukan semata-mata dari sudut pandangnya sendiri. ”  (Piaget, dalam Rosen 1977, 54)

Piaget menunjuk sesuatu yang telah lama dianut oleh Taoisme: sudut pandang yang matang mengenai realitas didasarkan pada pemahaman atas hubungan yang sejati. Menjadi satu dengan kodrat intuitif segala hal dan pemahaman hubungan akan terjadi dengan sendirinya. Melalui visi Yin dan Yang, hubungan menjadi seimbang ketika persepsi juga merengkuh sudut pandang orang lain.
            Perkembangan dalam hidup bersifat interaktif, tidak satu arah. Orang tua mempengaruhi anak, dan anak pun memberikan dampak terhadap orang tua. Masyarakat mempengaruhi para anggotanya, sebagaimana para individunya pun dapat memberikan perubahan yang langgeng dalam masyarakat. Semuanya berada dalam suatu interaksi bersama.[7]

Lima Unsur
Segala sesuatu yang kita jumpai terdiri dari lima unsure yang dipercayai orang China sebagai dasar kehidupan: air, kayu, logam, tanah, dan api. Karena mereka menganggap bahwa keseluruhan alam semesta terus-menerus berubah dan selalu berganti, maka unsure-unsur pun selalu berganti melalui interaksi satu sama lain. Sejumlah interaksi bersifat saling melengkapi, tetapi ada pula yang saling bertentangan. Misalnya, kayu menghasilkan api sehingga keduanya saling melengkapi. Sedangkan air menyingkirkan api, sehingga kedua unsur ini menjadi pasangan yang saling bertentangan. Kalau kita menyimak dunia di sekitar kita, maka kita akan menyaksikan bagaimana unsure-unsur berubah. Kita dapat mengamati daur yang destruktif, sebagai contoh: ketika air menguap atau kayu yang membusuk. Tetapi sebaliknya, terjadi daur yang regenerative, misalnya: ketika air mengembun dan pepohonan baru tumbuh. Orang China percaya bahwa benda memang ada, tetapi keberadaan itu dibatasi waktu di dalam daur perubahan yang tidak terelakkan.[8]
Sebuah model alternative, model ini selalu dikombinasikan dengan Yang dan Yin yang didasarkan pada Wuxing, suatu  pengertian dengan berbagai cara yang diterjemahkan sebagai lima elemen atau lima bagian, lima agen, lima fase atau tahap, atau lima kualitas operasional. kayu, api, tanah, logam, dan air: Wuxing berhubungan dengan lima pengertian, lima organ dalam, lima suara, lima warna, lima kebaikan, dan lima hubungan. 
ü  mereka (Yang dan Yin) mengontrol petunjuk (Timur, Barat, Utara, Selatan dan Tengah)
ü  mereka (Yang dan Yin) melahirkan yang lainnya atau yang ada di alam ini : kayu menghidupkan api, api menghidupkan bumi, bumi menghidupkan logam, dan logam menghidupkan air.
ü  mereka juga mengontrol semua yang ada di bumi : air mengontrol api, api mengontrol logam, logam mengontrol bumi, bumi mengontrol air.
Uraian pola yang lebih banyak lagi terdapat dalam delapan trigram dan 66 heksagram dari perubahan-perubahan klasik dan 10 cabang yang amat menyenangkan (kesurgaan) dan 12 batang (dahan) keduniaan yang dipergunakan untuk perhitungan dan menghitung ramalan.
Terdapat dalam unsure alam yang baik tersebut atau cerminan dari unsure yang tapi bersifat tidak nyata, ialah roh-roh leluhur, roh-roh selain leluhur, dan dewa-dewa, seperti dewa bumi, Tso Chun (dewa dapur), dewi Kwan Im, atau Guan Yin, dewa Kwan Kong atau Guan Gong, Tin Haw dan lain-lain yang menjadi pelindung hidup orang Cina, dan selalu di puja. Dari semua dewa ini, Kwan Im dianggap sebagai tokoh buddha, Kwan Kong dianggap sebagai tokoh konfusius dan Tin Haw dianggap sebagai dewi tao.  Semua roh dan dewa yang disebutkan diatas dikelompokkan oleh orang cina sebagai Shen yang dapat diartikan sebagai roh atau jiwa. sedangkan unsure alam yang tidak baik merupakan cerminan dari unsure Yin yang bersifat tidak nyata ialah Kwei yang juga dikenal sebagai hantu-hantu atau siluman.
Berdasarkan keyakinan orang China, salah satu cara untuk menghindarkan manusia dari pengaruh tidak baik yang datang dari roh-roh leluhur adalah memakamkan orang tuanya atau leluhur mereka sesuai dengan aturan-aturan ilmu feng shui yaitu dimulai dari menentukan tempat pemakaman, melakukan pemujaan  leluhur dan memberikan kebutuhan-kebutuhan oleh leluhur. Dapat juga dengan menempatkan bhaat gwa (sebuah kaca atau gambar yang memiliki delapan sisi dan setiap sisi mewakili arah mata angin) di tempat-tempet yang dianggap oleh ahli feng shui memiliki pengaruh jahat, seperti di atas pintu dan juga menggunakan phu atau jimat yang mereka dapar dari loya atau dukun ataupun dari ahli feng shui.[9]








[1] C. Alexander Simpkins, Simple Taoism, hal. 3-6
[2] Ibid, hal.68
[3] Bagus Takwin, Filsafat Timur, hal. 78
[4] Drs. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Tao, hal. 91
[5] Bagus Takwin, Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur, hal. 76
[6] Ibid, hal. 79
[7] C. Alexander Simpkins, Simple Taoism, hal. 71-72
[8] Ibid, hal. 8-9
[9] Drs. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Tao, hal. 94-95

0 komentar:

Poskan Komentar